Rabu, 11 Desember 2013

Apa mungkin saya ini bisa di kategorikan seorang Neo – Marxis ?



 Oleh Fandam hardianto [@fandamology]

Assalamualaikum

Yosh apa kabar semuanya ? Sehat semuakan ? yah kali ini saya mau curhat tentang diri saya, ya tepatnya tentang pandangan cara berpikir saya dalam melihat keadaan dunia saat ini. Kita semua hamper tau bahwa didunia ini padangan politik yang paling banyak dan besar yaitu pandangan pemikiran kanan dan pandangan pemikiran kiri. Pada pandangan pemikiran kanan pada umumnya identic dengan liberalism yang sebagian besar diantaranya berjiwa kapitalis dan sementara pandangan pemikiran kiri pada umumnya identic dengan sosialisme yang berjiwa marxisme.

Nah disinalah yang saya bingungkan pada diri saya, saya ini seorang dengan pemikiran kanan atau saya ini orang dengan pemikiran kiri ? kenapa saya bingung ? karena saya ini orang yang suka akan kebebasan dan saya juga penikmat barang – barang atau produk – produk dari Negara – Negara yang menganut liberalism dan juga kapitalisme (mungkin) seperti halnya yang dipikirkan oleh orang – orang kanan tetapi saya juga tidak suka akan penguasaan orang – orang kapitalis di negeri saya yang hampir mengenai semua sektor kehidupan di negeri ini dan saya juga menuntut adanya pemerataan yang adil dalam bidang ekonomi, social budala, politik, dll. Dari sinilah saya menjadi tidak mengerti dengan pemikiran saya ini. Dan yang membuat saya ini bingung jika saat saya di tanyai oleh teman, senior, dan junior saya di kampus, “Ndam anta ini orang kiri apa kanan se ?” dan saya hanya bisa menjawab “ kanan itu buat makan dan kiri itu buat kalok kita habis setor di wc”. Tuhkan !! bingungkan ? iya gitu wess…., pokoknya saat ini saya tidak tahu saya inii orang kanan apa orang kiri. Tetapi akhir – akhir ini saya membaca sebuah buku yang disana membahas tentang suatu paham yang disebut dengan Neo – Marxis . dari membaca bahasan inilah saya sedikit mungkin mendapat sedikit pencerahan tentang diri saya ini. Tetapi sebelum itu mari kita lihat terlebih dahulu sejarah dari Neo – marxisme tersebut.

Cikal bakal neo – marxis ini adalah tulisan sarjana Hongaria, George Lukacs (1885 – 1971), terutama dalam karyanya yang berjudul History and Class Consciusness. Kebanyakan kalangan neo-marxisme adalah cendikiawan yang berasal dari kalangan borjuis dan seperti cendekiawan dimana-mana, enggan menggabungkan diri dalam organisasi besar seperti partai politik atau terjun aktif dalam kegiatan politik praktis. Para neo-marxisme, di satu pihak menolak komunisme dari Uni soviet karena sifatnya yang represif, tetapi di lain pihak mereka juga tidak setuju dengan aspek dari masyarakat kapitalis di mana mereka berada. Pada tahun 1960an di eropa barat dan Amerika mulai dilanda berbagai konflik social, ekonomi, dan rasial sehinnga membangkitkan keresahan yang laus. Sebagai reaksi, banyak cendikiawan mencari jalan keluar. Disatu pihak mereka menolak kapitalisme dengan kesenjangan social dan ekonominya, tetapi dipihak lain mereka juga menolak komunisme dengan represif dan konformitasnya. Dalam keadaan frustasi ini, mereka berpaling ke tulisan-tulisan Marx, terutama karangan yang ditulisnya di masa mudanya, Fruhschriften, yang baru ditemukan dan diterbitkan kira-kira tahun 1932. Dari sinilah muali banyak para cendikiawan banyak yang menganut paham Neo-Marxis
Dari sinilah saya mulai berpikir apakah saya ini bisa atau boleh digolongkan dalam Neo-Marxis karena berdasarkan penjelasan diatas, saya ada didalamnya. Yang pertama saya tidak masuk keorganisasi, padahal di kampus saya banyak organisasi kemahasiswaan yang telah banyak diikuti teman-teman saya, ya memang dulu pernah tertarik dan hampir ikut kedalam organisasi kemahasiwaan (KS GMNI) yang rata-rata orangnya cenderung kepandangan kiri tetapi juga beberapa yang sepertinya mendukung liberalism. alasannya sebenarnya simple kenapa saya enggan masuk ke organisasi kemahasiswaan karena saya tidak ingin terikat oleh suatu organisasi selama ada dikampus sebab sepengatahuan saya yang terjadi dikampus saya teman-teman saya yang ikut kedalam oraganisasi-organisasi ini lebih cenderung dan berkumpul dengan sesama anggota organisasinya dan yang parahnya seakan – akan terjadi pertentangan atau antar organisasi satu dengan yang lainnya entah itu masalah yang ada dibelakangnya saya tidak ingin tahu . Hal inilah yang membuat saya tidak ingin berorganisasi karena saya lebih suka bergaul dan berkumpul secara bebas kepada siapa saja teman saya tanpa harus memandang organisasinya dari mana. Saya juga pernah diajak teman saya untuk masuk ke salah satu partai politik besar di negeri ini, tetapi saya langsung menolaknya, sebab bagi saya belum saatnya mahasiswa macam saya ikut-ikut urusan politik pragtis semacam itu.
Kemudian saya ini juga seorang yang tidak menyukai paham komunis, bukan karena sejarah di negeri ini tetapi memang menurut pandangan hidup saya dan untuk negeri ini komunis bukanlah hal yang baik diterapkan karena masyarakat kita yang sangat beragam dan heterogen, sementara suatu keberhasilan system komunis adalah jenis masyarakatnya yang memiliki banyak kesaaman dalam berbagai hal aspek kemanusiaan. Saya juga orang yang tidak suka akan beberapa perusahaan kapitalisme yang ada di negeri ini khususnya dalam bidang makanan contohnya saja KFC, Pizza Hut, Mc Donald, dll. Saya sudah sejak satu setengah tahun lalu bertekad tidak akan mengkonsumsi produk-produk dari perusahaan kapitalis dari luar negeri tersebut (kecuali Dountkin Dounat ya hehehe). Tetapi dalam hal lain seperti halnya bidang elektronik dan teknologi saya masih banyak menggunakan produk Negara Liberalis Kapitalis contohnya Laptop yang saya pakai ini, TV, Smartphone, Sepeda motor (eh Jepang kapitas gag se? moga ae enggag !) dan juga barang yang berbau “prototype”(sebutan BF bagi saya), padahal asal tahu saja “prototype” itu merupakan salah satu produk yang sangat kapitalis sekali. Saya juga sering mengunjungi websait Freedom Institute untuk membaca artikel- artikel disana yang berpandangan liberalis dan say banyak setuju dengan tulisan-tulisan disana tetapi saya juga sering mengunjungi IndoProgress yang tulisan-tulisannya kental dengan pemikiran-pemikiran kiri. Ketika saya berkumpul dengan teman – teman saya baik yang kanan ataupun yang kiri saya juga sering sependapat dengan pemikiran mereka tetapi kadang kalanya juga tidak setuju juga dengan pandangan mereka ketika kami saat mendiskusiakan suatu masalah yang muncul.
Dari berbagai macam hal tersebutlah saya mulai berpikir apa iya se saya ini termasuk ke Neo-Marxis ? dan hal ini masih saya kaji dari diri saya sendiri. dari sisni saya juga mungkin bisa menjawab tau pandangan yang dianut oleh salah satu tokoh favorit saya SOE HOK GIE, karena dari informasi yang saya peroleh selama ini dia adalah mahasiswa pergerakan yang tak berorganisasi yang anti komunis dan juga seorang yang menolak kapitalis, akan tetapi dalam hidupnya juga dia mau menerima kerjasama pertukaran atau kunjungan mahasiswa antar Negara di Amerika yang terkenal akan paham Liberalis kapitalismenya.
Pada akhir tulisan saya ini saya kan mengutip definisi Neo – Marxis di buku The Left Academy yang diedit oleh dua sarjana Neo- marxis Amerika, Bertell Ollman dan Edward Venoff “Sarjana Neo-Marxis adalah mereka yang meyakini sebagian pandangan Marx mengenai kapitalis dan sejarah, dan memakai metode analisisnya.”
Yah mungkin sekian saja curhatan tentang diri saya, maaf ya jika mungkin ada kata-kata atau penjabaran saya yang kurang berkenan di mata sekalian teman-teman yang membaca. Eh iya jadi saya ini bisa gag ya di katakana Neo-Marxis ? AAhhhhh entahlah…… !
YA budu videt’ vas snova !! Wassalamualaikum…..

Dari Lirik Menuju Masa Klasik yang Kini Hampir Punah

Oleh Syndi Nur Septian [@Syndi_Ns]

Iwan Fals – Buku Ini Aku Pinjam

(biar tau, biar rasa)
cinta ini milik kita
Di kantin depan kelasku,
disana kenal dirimu
Yang kini tersimpan dihati,
Jalani kisah sembunyi

Di halte itu ku tunggu,
senyum manismu kekasih
Usai dentang bel sekolah,
Kita nikmati yang ada

Seperti hari yang lain,
Kau senyum tersipu malu
Ketika ku sapa engkau..

Genggamlah jari,
Genggamlah hati ini

Memang usia kita muda,
Namun cinta soal hati
Biar mereka bicara,
Telinga kita terkunci

(Biar tau, biar rasa)
Maka tersenyumlah kasih
(Tetap langkah, jangan hentikan)
Cinta ini milik kita

Buku ini aku pinjam,
kan ku tulis sajak indah
Hanya untukmu seorang,
Tentang mimpi-mimpi malam

mahasiswa jember

Setelah menyelesaikan tugas kuliahku ( selesai ? Yakin tuh selesai, ah anggap saja begitulah ), aku sedikit ingin merefresh otakku. Ya kadang otak juga ingin diistirahatkan sejenak supaya gak gila gara-gara mikir terus. Hehehe,
Aku putuskan untuk mendengarkan lagu saja dari handphoneku, kebetulan lagu-lagu di handphoneku adalah mayoritas lagu-lagu kesukaanku semua, ya diantaranya seperti lagu-lagu slank ( Gue slankers meenn, pisss ), lagunya anak gaul zaman sekarang juga, dan tidak lupa juga lagunya JKT 48, yeeee (´▽`)/ , “uppsss”
Aku shuffle songs aja, males soalnya kalau harus milih, nanti malah galau dan akhirnya aku berdiri di tepi tebing dan gak jadi dengerin musik. Hehehe, :p
Dan ternyata lagu yang play saat itu adalah lagunya bang iwan fals judulnya buku ini aku pinjam. Lagu yang berceritakan tentang cinta itu merupakan lagu yang sangat bagus menurutku, dari lirik sampai nada musiknya. ( Sok ngerti tentang musik )
Aku dengarkan dengan seksama lirik lagunya, ada yang mengelitik di telingaku. Lirik di lagu itu sekarang udah jarang terjadi di percintaan anak muda zaman sekarang. Bahkan bisa di bilang sangat langka, hampir punah juga mungkin.

Contohnya nih dari lirik ini nih :
Di kantin depan kelasku, disana kenal dirimu

Klasik banget kan, di kantin sekolah terus kenalan sama cewek yang kamu suka. Kenalannya langsung tapi agak malu-malu gitu biasa kan masa-masa sekolah. Pasti ada getaran rasa gemetar pada saat kenalan sama cewek.
Tapi lihat zaman sekarang, lihat adik-adik yang masih duduk di bangku sekolah misalnya ( Ngerasa udah tua aja gue ) , mereka sekarang kalau kenalan udah jarang tuh kenalan langsung, ada sih tapi udah jarang, ingat ya UDAH JARANG. Mereka seringnya sekarang kenalan lewat media sosial seperti facebook, twitter bahkan sampai ke bbm. Contohnya nih di chat di facebook :
Joko : hy
Surti : hy ugah
Joko : ciapa dicana ?
Surti : akhu surti, amhu chapa ?
Joko : akhu joko, amhu scul or kul ?
Surti : akhu scul, log amhu ?
Joko : akhu scul .. Bla bla bla bla
Dan akhirnya mereka ketemuan dan jadian, atau kalau gak ketemuan dan kabur entah kemana. ~

( Aku juga pernah sih kenalan lewat facebook, tapi dulu, iya dulu. Sekarang sih udah gak, sekarang sih lewat twitter atau bbm hahaha, sssstttt :p )

Lirik berikutnya :
Di halte itu ku tunggu, senyum manismu kekasih
Usai dentang bel sekolah, Kita nikmati yang ada

Wuuuiihh ini nih, yang klasik juga nih. Di halte sehabis pulang sekolah, menunggu si gadis pujaan hati. Terus habis itu naik bus bareng, duduk di sebelahnya. Tapi ya gitu mau ngajak ngomong eh malah gemetaran dan gugup. Gak ngajak ngomong ya kan menyianyiakan kesempatan emas namanya. Hahaha :D
Tapi lihat sekarang, yaelah boro-boro mau ngajak naik bus bareng atau nunggu di halte. Sekarang tuh udah pada naik sepeda motor makanya gak usah naik bus. Oke deh, itu emang bener, tapi ini nih yang bikin nyesek, masak mau naik sepeda motornya kalau gak FU ya Vixion. Gak FU aku gak Love you Atau Gak Vixion aku gak action. Maaatiihhh .. Щ(ºДºщ)
Mungkin gara-gara globalisasi ya, banyak yang kayak gitu sekarang, gak semuanya sih, tapi ada, ingat ya ADAAAA !!!. Sampai ada lagunya juga tuh Kenzie – Globalisasi Wanita, kalau gak percaya tinggal download aja, baru semalem aku dengerinnya. Hahaha :p

Lirik berikutnya, dan lirik terakhir yang aku ambil sebagai contoh adalah :
Buku ini aku pinjam, kan ku tulis sajak indah
Hanya untukmu seorang, Tentang mimpi-mimpi malam

Romantis kalinya minjem bukunya sang gadis pujaan hati, terus malam harinya kita selipin deh selembar kertas puisi atau ungkapan hati dengan kata-kata sajak yang indah. Terus besoknya kita kembaliin bukunya, dan pas dia buka bukunya, dia baca puisi dari kita dan bilang : uuhhhh kamu coo cweeeett dehh .. (ʃƪ´⌣`)
*byyuuuurrr* tapi itu hanya angan-angan saja. Yaelah boro-boro mau nulis puisi atau ungkapan hati dengan kata sajak indah. Nulis satu kata dua kata aja udah dikira gombal. Udah dikira cowok penggombal atau dikira cowok pengobral kata-kata indah. Kalau gak gitu yang paling parah lagi dikira cowok galau, dan yang lebih parah dan parah lagi ini, dikira cowok lebay. Duhhh Matiihhh …
Coba nulis deh kata-kata indah atau kata-kata puisi di twitter atau di status bbm kamu. Pasti deh banyak yang coment, ih pasti galau anak ini, pasti gombal itu atau kalau gak yaelah lebay banget sih jadi orang. Sampai-sampai ada statement dari temenku cewek yang bilang begini : ” biasanya cowok yang pinter ngerangkai kata-kata itu pasti nyepiknya juga pinter.” ( Nyepik = Merayu )
Makanya aku percaya sama kata-katanya Mbah Jancuk Sudjiwotedjo : “lama-lama orang malas romantis, gara-gara takut disebut galau. Kita lantas kehilangan romantisme. Mengerikan”

Hahahaha, :D

Indahnya Bila Indonesia Bisa Mengolah Sendiri

BBM oh BBM ramai dimana mana. Iya BBM, maksud saya Bahan Bakar Minyak, bukanlah Blackberry Messenger. Harganya sudah akan naik sebentar lagi. Ancaman menyekik rakyat siap di depan mata. Efek domino siap datang di hadapan masyarakat kecil di negeri tercinta ini. Memang yang naik harganya BBM, tapi pastinya harga sembako, harga transportasi akan mengikuti juga. Inilah negeri tercinta kita Indonesia. Namun, kebijakan pemerintah ini bisa dibilang sebuah keputusan yang tepat, meskipun sikap rakyat seolah-olah menolak mentah-mentah kebijakan ini. Pastinya pemerintah sudah amat sangat paham bagaimana karakter bangsa ini, bagaimana rakyat negeri ini. Okelah, harga BBM sudah pasti naik, tapi bahasan ini juga tak akan kunjung selesai bila dibahas terus menerus.

Apa kita tidak pernah berfikir, alangkah indahnya bila indonesia ini dapat mengolah minyak? Indah dan indah pastinya, ya kan? Tapi sayang, pemerintah kurang tanggap menyikapi hal ini. Padahal kita tentu semua tahu kan ya, Indonesia ini kaya raya akan minyaknya, tapi kenapa malah ketika harga minyak dunia naik, Indonesia seakan kebakaran jenggotnya? Aneh gak? Aneh!!!!!!! Pemerintah seakan terlalu fokus pada kepentingan bisnis semata, tanpa memikirkan kepentingan rakyat dalam pembangunan di negeri ini. Rakyat seakan tidak bisa apa-apa dan kemudian selesai sudah. Itu saja simplenya mungkin pemikiran pemerintah kita.
Alangkah baiknya apabila cepu di jawa tengah itu diolah sendiri oleh indonesia tanpa campur tangan negeri seberang sana. Selain minyak yang dapat di sumber dayakan lebih banyak, namun pekerja disana tentu akan semakin meningkat. Hal ini juga tentunya akan berjalan bersamaan dengan pendapatan rakyat Indonesia sendiri kan? Pastinya kesejahteraan juga akan meningkat. Pastinya ketika minyak dunia mulai melambung naik, indonesia tidak akan kebakaran jenggotnya. Justru sebaliknya, indonesia akan semakin senang dengan adanya hal ini. Lihat saja arab saudi, uni emirat arab, dan negara-negara laijn yang juga punya minyak melimpahnya. Mereka tenang-tenang saja walaupun harga minya dunia melambung tinggi. Ya kan?
Ini seakan tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah. Pemerintah tidak fokus pada pengembangan sumber daya alam yang dimiliki negeri ini. Pemerintah seperti anak kecil yang hanya menginginkan kue kecil, tanpa tahu darimana kue kecil itu berasala, asal dimakan dan kemudian kenyang, lalu perut sakit pun ya sudah selesai. Mungkin apabila pengembangan sumber daya alam di negeri ini lebih ditingkatkan, mungkin tidak akan demontrasi mahasiswa membakar ban bekas di depan gedung DPRD, tidak akan ada lempar-lempar batu, tidak akan ada tawuran. Padahal semua itu merugikan, namun pemerintah seakan acuh tak acuh akan kejadian ini. Coba bayangkan, bila cepu, freeport, dkknya itu dikelolah pemerintah sendiri. Amerika? Inggris? Arab Saudi? Uni Emirat Arab? Jerman? Spanyol? Apa ya iya bisa mengalahkan Indonesia? Saya rasa itu tidak akan terjadi. Indonesia tidak akan kekurangan, rakyat akan hidup sejahtera dan damai. Pemerintah perlu berbenah dalam hal pengembangan sumber daya alam di negeri ini, dan tidak hanya terfokus pada hasil bisnis semata dan permainan kotor politik yang semakin menjadi di negeri ini.

“Tentukan dulu, Indonesia mau ikut mana? Kanan atau Kiri”

Oleh : Adhitya Tri [@AdhityaTri20]

Beberapa hari terakhir saya sedikit bisa dikatakan terisolasi oleh kawasan yang berada di pedalaman, jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk kota. Disini saya mulai berfikir, disini saya mulai bingung (lagi), karena saya pernah bingung dengan hal satu ini. Tepatnya waktu bulan maret kemarin. Satu kalimat dari anggota DPR RI ketika itu terucap, “tentukan dulu, Indonesia ini mau ikut yang kanan atau yang kiri?”. Nah, dari situ, saya bingung. Memang Indonesia belum jelas kan? Mau kanan apa mau kiri coba? Mau ikut china atau mau ikut amerika? Ini dalam hal birokrasi pastinya, bukan masalah ekonomi. Kalau amerika sudah jelas kan, dengan liberalnya, kalau china sudah jelas juga dengan sosialismenya. Ya kan? Kalau Indonesia apa? Demokrasi kah? Atau feodalisme kah? Atau mungkin komunisme kah?
Saya rasa pembahasan ini sangat sulit untuk ditemukan sebuah titik temu yang jelas. Karena bila melihat aliran kanan dan kiri ini keduanya mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing pastinya. Tapi, ada baiknya bila secepatnya Indonesia mengambil sikap yang bijak pula. Ambil aliran kanan atau mau ambil aliran kiri. Hal ini kelihatan memang bukanlah sebuah masalah besar seperti pertentangan Hobbes dan Locke tentang adanya negara dan tidak adanya negara, atau pertentangan Marxisme denga Liberalisme. Namun, selama hal ini tidak cepat diambil, selama itu pula posisi Indonesia akan terkatung-katung berada di tengah-tengah. Hal ini membawa dampak besar pada arah kebijakan negeri ini tentunya. Mau dibawa kemana kebijakan pemerintah Indonesia juga akhirnya tidak jelas. Ya, saya sendiri tidak begitu kaget juga bila ketika kebijakan kenaikan BBM begitu banyak yang menentang dan juga banyak yang setuju. Karena memang arah kebijakan ini belum ada kejelasan kan? Mungkin saja kan uang subsidi BBM itu di korupsi dan atau digunakan untuk hal-hal lain yang kurang bermanfaat untuk Indonesia sendiri.
Ya, mungkin ada benarnya juga kalimat dari salah satu anggota DPR RI itu, tentukan dulu, Indonesia mau ikut kanan atau kiri. Barulah, kebijakan yang baik dan benar menurut birokrasi negeri ini akan dapat di capai

Heran dengan Endonesa



Oleh Amaltaufik [@akuwedus]

Pernah nggak kita kepikiran kalo bangsa ini suatu saat akan memutuskan kontrak pengelolaan sumber daya alam dengan Amrik dan asing lainnya? Saya bermimpi suatu hari Presiden kita (bukan yang sekarang) nunjuk-nunjuk kepala Obama dan antek-anteknya dengan mata mendelik (melotot) mengusir mereka dari tanah ibu pertiwi. Tapi sayang, mimpi kaya gitu sama seperti saya mimpi ciuman sama Selena Gomez.

Saya ini sebenernya nggak tahu bagaimana pola pikir bangsa kita. Masih inget nggak beberapa tahun yang lalu, saat timnas kita di olok-olok oleh suporter negara Malaysia? Kita langsung kebakaran jenggot kayak-kayak kita mau perang sama mereka. Ini bagaimana sih? Kita di olok-olok sama mereka, emang yang berkurang dari kita apa? Apa di olok-olok bikin negara kita miskin? Apa di olok-olok bikin negara kita kehabisan minyak? Apa di olok-olok bikin emas di Papua habis? Kan ndak toh? Kita harusnya kebakaran jenggot liat Freeport di giling Amrik dan antek-anteknya, kita juga harusnya kebakaran jenggot liat Cepu di keruk Amrik dan antek-anteknya. Tapi lihat kenyatannya, pas Obama senyam-senyum di Podium istana negara sambil ngomong “bakso, nasi goreng, dan krupuk”, kita malah plok-plok-plok. Hadeeeeh.

Kemarin liat ndak timnas tanding sama klub-klub / negara-negara yang track record sepakbolanya menjulang diatas negara kita. Saya juga bingung, sebenernya masyarakat ini nggak sadar atau gimana sih? Kenapa kita harus bikin pertandingan yang timnas kita pasti kalah? Harusnya bangsa ini tersinggung sama promotor pertandingan dan marah terhadap Roy Suryo, kenapa seperti itu? Jelas lah, karena menurut saya kekalahan timnas seolah-olah sudah dijadikan ‘hiburan’ yang menjual. Tapi buktinya kita flat-flat aja lihat Andik Vermansyah dkk jatuh bangun di tabrak pemain-pemain kolonial.

Konsistensi bangsa ini memang perlu di pertanyakan, Di dalam UUD pasal 29 ayat 2 sudah jelas dan semua sepakat untuk memberikan kebebasan kepada seluruh warga negara untuk memeluk agama dan ibadah sesuai dengan keimanan dan ketaqwaan masing-masing. Tapi kenapa warga Sampang seenaknya di tuduh aliran sesat sampai mau di relokasi dari desanya? Umat Kristen di Bekasi juga kesulitan mendirikan gereja untuk mereka beribadah gara-gara diprotes rezim-rezim sok soleh. Kalo sudah sepakat sama UUD pasal 29 ayat 2 ya harusnya kita konsisten dan amanah. Kita harus memberikan kebebasan berkeyakinan bagi seluruh warga masyarakat dong, mau mencantumkan agama apa aja di KTP harusnya di perbolehkan, mau mbangun tempat ibadah juga harusnya di izinkan dan di lindungi dong, karena kesepakatannya kan seperti itu. Kecuali pasal 29 ayat 2 berbunyi “setiap warga negara hanya diperbolehkan mengikuti agama yang diakui oleh negara..” gituuuuuuu.

Selain itu saya juga bingung sama UUD yang berbunyi “Gelandangan dan anak terlantar di pelihara oleh negara”. Cobak kita mikir ulang, ini maksutnya bagaimana? Lhawong gelandangan dan anak terlantar kok di pelihara? Yang namanya MELIHARA itu kan akhirnya semakin banyak toh? Waduh repot. Jadi di maklumi saja kalau kita semakin banyak melihat gelandangan dan anak terlantar di negeri ini, lhawong negara yang melihara.

Saya juga bingung sama kesepakatan elit-elit nasional dan founding father kita, bahwa negara Indonesia bukanlah negara sekuler, negara Indonesia adalah negara yang berkeTuhanan. Harusnya orang korupsi itu langsung di tembak mati begitu jadi tersangka korupsi. Karena apa? Karena dia sudah tidak berTuhan, dia sudah menyembah harta daripada menyembah Tuhannya, berarti dia sudah menduakan Tuhannya, dia syirik. Kalo bisa langsung aja di bedil rumahnya sama Kopassus. Kalo di bandingkan antara koruptor sama preman ya mending preman lah. Preman gondrong, mbladus, item, dia jelas-jelas membunuh dan terang-terangan minta pungli kepada masyarakat. Tapi kalo koruptor lebih jleb , penampilannya santun, rapi, senyam-senyum, muka bersih, tapi ngrampoknya milyaran sampai-sampai tetangga saya yang harusnya bisa sekolah jadi ndak bisa sekolah. Ibaratnya, preman itu kayak orang menggal kepala kambing pakai pisau tajam, tapi kalo koruptor itu kayak orang menggal kepala kambing pakek pisau tumpul. Sakit.

Beberapa hari yang lalu, mungkin ada yang tahu dan ada yang ndak tahu kalo buruh Freeport tertimbun longsor ketika bekerja, lalu ada juga mahasiswa Indonesia yang meninggal di luar negeri dimana tempat kuliah mahasiswa tersebut merupakan lembaga yang memberikan SBY penghargaan toleransi. Berita-berita semacam ini ndak banyak di ekspos di media karena apa? Karena semuanya di seruduk sama sapinya seorang bad boy, pak Fathanah. Pak Fathanah menurut saya memang layak menyandang gelar bad boy, karena beliau sudah menjajal berbagai macam daging lokal, sehingga beliau merasa bosan dan (mungkin) ketika beliau lihat Amerika Nakal, beliau tergoda mencicipi daging impor. (mungkin begitu). Ini hanya asumsi lho ya.

Saya juga agak gemes lihat tokoh-tokoh agama ketika ceramah. Terutama ketika memperingati hari-hari besar agama. Contoh ketika hari besar junjungan umat islam Nabi Muhammad SAW (shalawat selalu di ucapkan untuk Nabi Muhammad SAW serta keluarganya) misalkan ketika memperingati Maulid Rasulullah SAW. Bagaimana ndak gemes kalo pas saya menghadiri acara ini yang ceramah di atas mimbar tidak memberi ilmu yang berbobot, tapi malah banyak guyon, malah kadang ngomongin perempuan, ngomongin saru. Hadeeeeeh. Saya nggak mbayangin misalkan Rasulullah ada di acara tersebut, nggak tau deh bagaimana perasaan Rasulullah terhadap ulama tersebut. Tapi ya ndak tau lagi kalo ceramah agama model gini yang “menjual” di Indonesia.

Dulu saat saya sekolah SD-SMA, saya sudah nggak kaget guru sering plak-plok sama muridnya. Murid salah dikit di jewer, di olok-olok bahkan juga nggak ngagetin kalo guru olahraga suka nendang-nendang murid seenaknya sendiri, temen saya SMA pernah di gampar guru saya gara-gara ketahuan ngerokok di kamar mandi, saya dulu juga pernah pas sekolah SD waktunya istirahat sholat dzuhur saya ndak bawa sarung, lalu godek saya di jambak sama guru saya sampai rontok. Tapi pendidikan seperti itu bagi kami adalah pendidikan lumrah, nggak kayak sekarang, guru nggak berani sama muridnya, dengan alasan HAM. Murid di jewer, di gampar , di olok-olok guru, langsung wali muridnya maju ke sekolah nuntut si guru dengan ini, itu dan tetek-teteknya, eh salah, maksut saya tetek bengeknya. Rasa-rasanya saya curiga dengan adanya HAM, jangan-jangan dengan adanya HAM, siswa di negara kita di didik semakin jadi siswa cengeng, dikit-dikit HAM dikit-dikit HAM. Hadeeeeeh.

Saya juga heran, bagaimana bisa bangsa ini teriak-teriak ketika Malaysia mau membajak tari tor-tor, batik, dan reog Ponorogo, tapi bangsa ini ndak teriak-teriak ketika pasar-pasar modern kayak minimarket, hypermart membajak penghasilan toko-toko kecil dan pasar tradisional. Bukannya saya ndak mau terbuka, saya setuju-setuju aja ada pasar modern, tapi regulasinya juga harus tegas dong, dan nggak merugikan toko-toko tradisional. Bukan kayak sekarang minimarket yang menjamur dimana-mana, kayak nggak ada aturannya.

Slogan yang dibawa para caleg, cagub, cabup seperti “masyarakat adil dan sejahtera”, “mitra usaha kecil”, “berjuang bersama rakyat”, “mengabdi untuk rakyat”, semua itu mirip kata-kata “Damai itu Indah”, maksut saya, kata-kata itu ndak mengandung genjotan semangat untuk rakyat supaya gotong royong membangun daerah. Kata-kata itu yaa cuman kata-kata “indah”.

Okelah sekian postingan saya kali ini, tidak lupa saya meminta komentar, saran dan kritik dari temen-temen atas tulisan saya ini. Assalamualaikum wr.wb. Salam Super.